|

JAKARTA (Pos Kota) – Angka 9 menjadi angka apes bagi Dulmatin alias Djoko Pitono. Pada tanggal itu, Selasa ini, tubuhnya ditembus peluru Densus 88 di sebuah warnet di Pamulang sekaligus mengkakhiri petualangan panjangnya yang merisaukan aparat Indonesia, Australia dan Amerika.
Teroris kelahiran Desa Petarukan, Kecamatan Petarukan, Pemalang, 6 Juni 1970 – terhenti aksinya pada usianya yang ke 39 . Kepolisian Indonesia menganggapnya sebagai orang yang paling bertanggung-jawab atas ledakan Bom Bali pada tahun 2002 yang mnewaskan ratusan orang Indonesia dan asing.
Dulmatin memiliki nama aliasnya bermacam-macam, seperti Amar Usmanan, Joko Pitoyo, Abdul Matin, Pitono, Muktarmar, Djoko, dan Noval. Selain Indonesia, Dulmatin juga menjadi buron di Filipina, Amerika Serikat, dan Australia.
Lahir sebagai anak kelima dari enam bersaudara putra pasangan Usman dan Masriyati, keluarga yang cukup berada di desanya. Selepas SMA pada tahun 1992 ia merantau ke Malaysia. Tiga tahun kemudian ia kembali ke Indonesia dan bekerja sebagai makelar mobil dan bertani.
Dulmatin menikah dengan Istiada (34), saudara sepupunya sendiri. Istiada selalu mengenakan cadar apabila bepergian ke luar rumah.
Keterlibatannya dalam gerakan ekstrem Islam konon dimulai setelah ia berhubungan dengan Abu Bakar Baasyir dan kemudian berkenalan dengan Imam Samudra serta tokoh-tokoh Jamaah Islamiyah lainnya.
Dulmatin lah yang disebut-sebut merencanakan pelaksanaan pengeboman dua diskotek di Kuta, Bali pada tahun 2002. Setelah itu ia menjadi buron polisi. Ia dikabarkan pernah terlibat dalam kegiatan terorisme di Pulau Mindanao, Filipina.
Pemerintah Amerika Serikat sempat mensayembarakan dan menyediakan USD 10 juta (setara Rp93 miliar!) bagi orang yang dapat memberikan informasi mengenai keberadaannya. Menurut keterangan pemerintah AS dalam pengumuman sayembaranya, Dulmatin adalah ahli elektronik yang pernah berlatih di kamp-kamp Al-Qaidah di Afganistan dan merupakan tokoh senior dalam Jemaah Islamiyah.
Licin bak belut, Dulmatin sempat berkali-kali dikabarkan tewas – antaralain dalam serangan udara militer Filipina di Mindanao, Filipina Selatan pada Januari 2005, namun ternyata hal tersebut tidak dapat dikonfirmasi.
Pihak militer Filipina kembali mengabarkan bahwa Dulmatin telah terluka dalam sebuah baku tembak di Jolo, Filipina Selatan pada tanggal 16 Januari 2007.
Sampai kemudian Selasa, 9 Maret 2010 hari pengapesannya tiba, Dulmatin tewas pada penggerebekan di Pamulang, Tangerang Selatan . (dms) |